Sabtu, 26 Oktober
2013
Mungkin
hari ini akan menjadi salahsatu hari yang ‘berpengaruh’ bagiku.
Hari ini kampusku, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya mengadakan
seminar yang bertemakan ‘I am a journalistar’ dengan mengundang Michael Tjandra
(news anchor Seputar Indonesia RCTI) sebagai pembicara. Siapa sih yang gak
kenal dengan Michael Tjandra? Si ganteng yang imut dan sipit ini J Wajanya
selalu muncul setiap pagi saat membawakan acara Seputar Indonesia Pagi di RCTI.
Michael Tjandra begitu ramah, dia selalu
menebarkan senyum yang aduhai kepada para peserta termasuk aku. Hahaha.
Kebetulan, aku duduk di barisan paling depan, yang berhadapan langsung dengan
Michael Tjandra. Duh, senangnya akuu :3 Sekali lagi, siapa sih cewek yang gak klepek-klepek kalo dihadapannya ada
cowok ganteng plus senyumnya yang tulus.
Michael Tjandra membuka acara dengan
mempresentasikan riwayat hidupnya selama ini. Ternyata, dia sebenarnya adalah
seorang lulusan Sarjana Arsitektur dari Universitas Trisakti Jakarta. Tapi, kok
kenapa dia sekarang bisa menjadi presenter berita ya? Hm, begini ceritanya.
Ternyata MT dimasa kecilnya hingga kuliah adalah seorang anak yang pemalu.
Jarang menghampiri hura-hara kehidupan, suka menyendiri dan sulit jika diajak
berkomunikasi dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi hal ini mulai punah
ketika dia mendapatkan mata kuliah Komunikasi Arsitektur. Dosennya mengatakan
bahwa sebagus apapun gambar/desain seorang arsitek jika dia tidak bisa
mempresentasikan kepada pelanggan dengan baik, desain itu akan menjadi biasa
dan sia-sia. Dari sini, MT tergerak dan bertekad untuk mengimprove kemampuan berbicaranya. Hingga dia mendapatkan nilai A
pada mata kuliah tersebut. Disini, MT merasakan bahwa dia menemukan passion. Selulusnya dari bangku kuliah,
dia menjadi seorang arsitek sesuai cita-cita dan jurusannya. Akan tetapi, tak
cukup lama dia memutuskan untuk mencari profesi lain yang lebih menantang.
Akhirnya dia memilih bekerja di sebuah perbankan swasta. Tak butuh waktu lama
bagi dia untuk merasa tak cocok. Dia merasa monoton
dengan hidup yang ditawarkan oleh pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Aktivitas
kesehariannya hanya ita itu saja.
Untuk mencari something, dia memilih
untuk keluar dari pekerjaannya di bank tersebut dan memutuskan untuk mengikuti
kelas public speaking selama beberapa
bulan. Setamatnya dari kursus tersebut, dia mencoba untuk melamar pekerjaan di
stasiun TV RCTI. Dengan penyeleksian yang sangat ketat, karna dari lebih dari
1000 pendaftar hanya diambil 6 terbaik, dan MT salah satunya. MT pun mengakui
tak menyangka dan sebelumnya tak memiliki impian untuk menjadi seorang
jurnalis.
Alasan MT memilih terjun ke dunia jurnalistik
pun sederhana, yakni dia ingin menantang hidup ini dengan pengalaman-pengalaman
baru agar lebih berwana dan tidak monoton. Sebagai jurnalis yang masih bau
kencur, MT belajar banyak dari senior-seniornya di RCTI. Rasa keingintahuannya
yang mendalam mengenai dunia yang baru dikenalnya ini. Dan inilah salahsatu
sifat yang harus kita contoh dari MT, haus ilmu J
Menurut MT, profesi jurnalistik memiliki
makna tersendiri baginya. Jurnalistik adalah dunia dan media untuk mengabdi
kepada masyarakat. Bagaimana tidak, dalam jurnalistik, kepuasan pemirsa adalah
harga tertinggi yang harus didapatkan. Jurnalistik sendiri sebagai ajang
edukatif, informasi yang akurat kepada masyarakat. Jurnalistik tak sekedar
meliput berita, mencari dan menguntit narasumber, ataupun sebagai dunia tulis
menulis, jurnalistik adalah sebuah nyawa bagi perkembangan suatu negara. Bisa
kita bayangkan jika setiap hari tak ada info yang bisa kita update?
MT menceritakan tugas pertamanya sebagi
jurnalis, yakni ketika dia diposisikan sebagai jurnalis peliput kriminal. Dia
yang awalnya takut darah dan mayat, harus berhadapan dengan mayat seorang anak buah kapal yang tubuhnya
jatuh dan membentur badan kapal sehingga bagian kepalanya pecah, otaknya
berceceran. MT dengan berat hati harus meliput mayat tersebut walau merasa
takut dan jijik. Tapi dia berpendapat, ini adalah tantangan yang harus
diselesaikan.
Cerita berlanjut saat MT berbagi pengalaman
saat dia ditugaskan meliput kekacauan di Mesir beberapa waktu yang lalu. Kita
ketahui, betapa bahayanya Mesir ketika bergejolak? Saling serang antar
pendukung kepemimpinan. MT yang sebenarnya bimbang, harus berangkat ke Mesir
walau dia tahu bahwa nyawa adalah taruhan. Dalam jurnalistik, perintah adalah
‘siap’ dan harus dilakukan, tidak ada alasan maupun penyangkalan. Beuh, bisa
kita lihat, betapa disiplin dunia jurnalistik. MT menggambarkan seorang
jurnalis itu bagai prajurit yang harus selalu siap untuk perang ketika
dibutuhkan, dalam keadaan apapun. Bedanya, senjatanya adalah berupa kamera, tape recorder, dan note. Duh, mengasyikan bukan? Hahaha
Cara MT bercerita sungguh kreatif dan membuat
peserta seminar menjadi beraneka ekspresi. Ada yang terkagum-kagum, melongo,
melotot, jungkir balik, ngakak, dan lain-lain. Sungguh beragam dan membuat kami
sebagai peserta tak merasa bosan. Kami seperti terbawa oleh alur cerita yang
disutradarai oleh MT.
Tak sekedar mendapatkan materi mengenai seluk
beluk dunia jurnalistik, di seminar kali ini, MT memberikan praktik langsung
mengenai jurnalistik. Banyak sekali simulasi yang diberikan dengan melibatkan
peserta seminar, termasuk aku juga loh. Hahaha. Pertama, kami diberikan
ilustrasi mengenai suatu kejadian yang harus kita temukan siapa orang pertama
yang harus kita wawancarai dan memiliki keakuratan informasi. Kami diberikan
permasalahan tentang kebakaran yang melahap perkampung warga, “Siapakah fisrt subject yang harus kita wawancarai?”
Begitulah pertanyaan dari MT. Peserta tak tinggal diam, banyak adu pendapat.
Dan hebatnya MT membuat hal ini menjadi diskusi yang sehat serta masuk akal.
Aku sempat tercengang dengan kekritisan dan kedetailannya terhadap setiap
pendapat yang diajukan oleh setiap peserta. Disini tak jarang MT mengeluarkan
guyonan yang bikin perut ngakak bingitt. Hahaha
Kedua, adalah simulasi teknik memwawancarai
narasumber secara Doorstop. Ada yang
tahu ketika ada segerombolan wartawan yang berkumpul didepan pintu masuk suatu
gedung dan dengan setia menanti narasumber? Lalu ketika narasumber datang,
wartawan ramai dan berdesakan untuk mewawancarai. Nah, itulah yang disebut
sebagai teknik Dropstop. Sangat
mengasyikan dan sekali lagi, menantang. Dalam hal ini, aku ikut serta dalam
simulasi yang diadakan oleh MT. Hahaha *narsis*
Ketiga, menjadi Live Reporter di stasiun televisi. Nah, ini lebih menantang dan
membutuhkan adrenalin yang besar,
karna kita akan layaknya seorang pembawa berita. Di shoot secara langsung oleh kamera, Sama halnya diatas, kami
diberikan permasalahan yang sama yakni kebakaran akan tetapi kami hanya
diberikan poin-poin untuk kami kembangkan dalam bentuk berita lisan.
Teman-teman banyak yang maju kedepan untuk memperagakan diri menjadi seorang
reporter. Sebenarnya, aku gak niat maju, tapi MT menyebut namaku, jadinya aku
maju deh (ingat: perintah adalah siap) hahaha. Awalnya aku deg-degan, tapi aku
coba untuk mengusai diri dengan cara bahwa aku yakin bisa. Dan buktinya adalah
Alhamdulillah lumayan lancar ngomongnya. Sempet dapat pujian dari MT loh.
Hehehe
MT membuka sesi tanya jawab terhadap peserta
seminar. Tidak ingin menyia-yiakan kesempatan, aku bertekad bertanya. Dan
ternyata, aku adalah penanya pertama. Hahaha.. Pertanyaanku adalah “Bagaimana
jika terdapat berita yang menjatuhkan kredibilitas seseorang dalam hal ini
adalah seorang tokoh politik, karna kita ketahui bahwasanya ada tiga stasiun televisi
swasta yang dimiliki oleh seorang calon capres & cawapres Indonesia? Dan
apakah harapan dari anda terhadap dunia jurnalistik Indonesia kedepannya?”. MT
cukup terkejut dengan pertanyaanku yang pertama. Jujur, aku merasa sangat tidak
enak dan merasa salah bertanya K Karna MT sendiri adalah
pendukung dari pasangan Wiranto & Harry Tanoesoedibjo yang merupakan
pemilik dari RCTI

0 comments:
Post a Comment